Pengaruh Kebudayaan Islam di Kerajaan Mataram





Pengaruh Budaya Islam di Mataram


Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia yang bersifat maritim, kerajaan Mataram bersifat agraris.

Kerajaan yang beribu kota di pedalaman Jawa ini banyak memperoleh pengaruh kebudayaan Jawa Hindu baik pada lingkungan keluarga raja atau pada golongan rakyat jelata.

Kebudayaan Islam di Mataram

Pemerintahan kerajaan ini ditandai dengan perebutan tahta dan perselisihan antar anggota keluarga yang sering dicampuri oleh Belanda. Kebijaksanaan politik pendahulunya sering tidak diteruskan oleh pengganti-penggantinya.

Walaupun demikian, kerajaan Mataram adalah pengembang kebudayaan Jawa yang berpusat di lingkungan keraton Mataram. Kebudayaan itu adalah perpaduan antara kebudayaan Indonesia lama, Hindu-Budha, dan Islam. Kehidupan sosial ekonomi Mataram cukup maju.

Sebagai kerajaan besar, Mataram maju nyaris dalam segala bidang, pertanian, agama, budaya. Pada zaman Kerajaan Majapahit, muncul kebudayaan Kejawen, gabungan antara kebudayaan asli Jawa, Hindu, Buddha, dan Islam, misalnya upacara Grebeg, Sekaten.

Karya kesusastraan yang terkenal adalah Sastra Gading karya Sultan Agung. Pada tahun 1633, Sultan Agung mengganti kalkulasi tahun Hindu yang berdasar kalkulasi matahari dengan tahun Islam yang berdasar kalkulasi bulan.

Kitab Serat Gendhing

Sultan agung juga berprediksi sebagai pujangga. Karyanya yang terkenal yaitu kitab Serat Sastra Gendhing. Adapun kita serat Nitipraja digubahnya pada tahun 1641 M. Serat sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tata ketentuan moral, agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis.

Selain menulis, Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga kraton untuk menulis sejarah babad tanah jawi.Di antara semua karyanya , peran sultan agung yang lebih membawa pengaruh luas adalah dalam penanggalan. Sultan agung memadukan tradisi pesantren islam dengan tradisi kejawen dalam kalkulasi tahun.

Pesantren di Kerajaan Mataram

Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun Caka atau saka. Pada tahun 1633, Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem kalkulasi tahun yang baru untuk seluruh mataram.

Perhitungan itu nyaris seluruhnya disesuaikan dengan tahun hijriah, berdasar kalkulasi bulan. Namun, awal kalkulasi tahun jawa ini tetap sama dengan tahun saka, yaitu 78 m. Kesatuan kalkulasi tahun sangat penting untuk penulisan serat babad.

Perubahan kalkulasi itu adalah sumbangan yang sangat penting untuk perkembangan proses pengislaman tradisi dan kebudayaan jawa yang sudah terjadi sejak berdirinya kerajaan demak. Hingga saat ini, sistem penanggalan ala sultan Agung ini masih tidak sedikit digunakan.

Sejak masa sebelum sultan Agung pembangunan non-militer memang sudah dilakukan. Satu yang layak disebut, panembahan Senapati melengkapkan bentuk wayang dengan tatanan gempuran.

Setelah zaman senapati, mas jolang juga berjasa dalam kebudayaan, dengan berusaha menyusun sejarah negeri demak, serta menulis beberapa kitab suluk. Misalnya Sulu Wujil (1607 M) yang berisi wejangan Sunan bonang kepada abdi raja majapahit yang bernama Wujil. Pangeran Karanggayam juga menggubah Serat Nitisruti (1612 m) pada masa mas jolang.

Bidang Sosial dan Politik Mataram

Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga menuangkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur.

Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing adalah karya Sultan Agung yang lainnya.

Related Post

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel