Sejarah Raja Jawa Yang Menjadi Raja Di Kamboja

Sejarah Raja Jawa Yang Menjadi Raja Di Kamboja

Pengaruh dan sentuhan budaya Jawa, sosial dan politik dengan angkor wat


Raja Jawa Yang Menjadi Raja Di Kamboja

Pembagian Dinasti Syailendra

Di Indonesia dinasti Syailendra atau nama lain Sailendra berkuasa di dua tempat berbeda yaitu:

1. Sriwijaya di Sumatera
2. Mataram Kuno (dinasti Syailendra) di Jawa

*Catatan:

Syailendra dibagi menjadi 2 dinasti dimana satu berkuasa di Sumatera pada zaman dahulu dan dikenal dengan nama Srivijaya atau Sriwijaya dan di Jawa bernama kerajaan Mataram Kuno.

Pengaruh kerajaan Syailendra khususnya di Jawa dan Sumatera tersebut meluas sampai wilayah diantaranya:

1. Kamboja
2. Vietnam
3. Thailand
4. Malaysia
5. Laos


Daerah diatas dikenal dengan nama wilayah Indo China.

Dalam prasasti Sdok Kak Thom dan prasasti Vat Samrong yang ditemukan di Kamboja dan Vietnam menjelaskan bahwa selama berabad-abad, daerah delta di sepanjang sungai Mekong dan Kamboja Tengah berada dalam kekuasaan Kerajaan Jawa.

Kerajaan Jawa pertama yang menguasai daerah delta sungai Mekong dan Kamboja Tengah adalah dinasti Syailendra yang beragama Buddha.

Selanjutnya kerajaan Majapahit bukan berperang dan menguasai Kamboja namun menjalin hubungan politik dengan menikahkan putri raja Champa Kamboja yang bernama Darawati dengan Kertawijaya raja ke-VII kerajaan Majapahit.

Sehingga wilayah kerajaan Majapahit meluas sampai ke Indo China.

Makam putri raja Champa bisa Anda temukan di daerah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Bukti Pengaruh Kerajaan Jawa di Kamboja

Kerajaan Majapahit dan kerajaan syailendra yang berada di tanah Jawa, mempunyai pengaruh besar sampai ke daerah Asia Tenggara.

Pengaruh agama Hindu dan Budha di Kamboja sangat kuat, disamping itu pengaruh politik, ekonomi, seni dan budaya serta pemerintahan Jawa berpengaruh terhadap kerajaan di Kamboja dan menjadi bukti sejarah yang tidak terpisahkan.


Prasasti sdok kak Thom adalah bukti upacara keagamaan dan penolak bencana
Prasasti Sdok Kak Thom 

Prasasti Sdok Kak Thom

Dalam prasasti yang ditemukan di daerah Kamboja tengah berupa batu tua yang diukir dan diterjemahkan oleh ahli bahasa Sansekerta setempat.

Pada bait 61-62 prasasti Sdok Kak Thom:

"Yang mulia Parameswara yang telah datang dari Jawa kemudian menjadi raja di kerajaan Indrapura"

Pada bait lain 71-72 disebutkan:

"Yang mulia Brahmana Hiranyadama yang ahli dalam hal ghaib telah datang dari Janapada karena paduka yang mulia Parameswara telah mengundangnya untuk mengadakan upacara keagamaan, agar Kamboja tidak lagi tergantung kepada Jawa, oleh karena Yang Mulia telah menjadi Cakrawati"

*Catatan:

Diterjemahkan dan ditulis oleh Coedes pada tahun 1970, dan direvisi pada tahun 1996-1997.

Prasasti diatas ditulis pada tahun 974 Saka atau tahun 1052 Masehi yang menyatakan:

Raja Jayawarman atau Javarman II yang datang dari Jawa memerintah kota Indrapura dan penduduk kampung tersebut melaksanakan perayaan keagamaan Budha supaya "Kampung Kamboja" tidak lagi takluk oleh kerajaan di Jawa.

Raja Javarman II memerintah pada tahun 802-869 Masehi dan setelah itu kerajaan Indrapura yang diperintah oleh kekuasaan di Jawa mengalami kemunduran.

Karena pengaruh politik kemungkinan raja Jayavarman memutuskan untuk melepas dari cengkraman kekuasaan kerajaan di Jawa.

Raja Jayavarman merupakan keturunan raja yang menjadi raja di negara Kamboja dimana ada garis keturunan dari trah kerajaan syailendra di tanah Jawa.

Setelah itu Jayavarman membangun kerajaan baru yaitu Khmer dimulai sesudah abad 8 Masehi.

Keberadaan prasasti tersebut dapat Anda temui di Phnom Penh di Preah Vihear berangka tahun 1052 Masehi.

Kata Jawa tidak ditemukan hanya satu saja dalam sejarah kerajaan Kamboja dimana masa itu dikuasai oleh kerajaan Jawa.

Selama berabad-abad daerah di sekitar delta Sungai Mekong dan Kamboja Tengah, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Jawa.

Prasasti Vat Smrong


Prasasti Vat smrong bukti acara keagamaan untuk penangkal rakyat Kamboja
Prasasti Vat Smrong 


Pada prasasti Vat Smrong yang ditemukan di Vietnam tepatnya di daerah provinsi Tra Vinh.

Prasasti itu terletak di kuil Buddha dimana prasasti tersebut ditulis pada batu besar berwarna hitam yang ditanam di tanah di depan patung Buddha di Vihara sebelah timur.

Prasasti tersebut diukir dalam 18 baris dengan ukiran bahasa sansekerta yang menjelaskan bahwa:

Yang Mulia yang telah pergi ke tempat Parameswara (mangkat) pergi ke Rdval, mempercayakan kepada Sri Prathivinendra yang mengadakan upacara keagamaan agar Kambuja tidak dikuasai oleh Jawa

Kedua prasasti tersebut menjelaskan dengan jelas kata parameswara, kata jawa, mangkat dan upacara keagamaan yang terdapat dalam ukiran batu tersebut dimana rakyat Kamboja menuliskan kata merdeka dari kekuasaan kerajaan Jawa.

Prasasti Yang Tikuh


prasasti yang tikuh merupakan bukti ada kapal dari jawa dan penyerangan di kuil
Prasasti Yang Tikuh 

Prasasti ini ditulis oleh raja Indrawarman sendiri pada tahun 799 Masehi dimana isi dari prasasti itu adalah:

Telah dibangun pemugaran kuil Bhadradhipatiswara pada tahun 787 Masehi dimana diserang dan dibakar oleh sepasukan yang datang naik kapal dari tanah Jawa.

Pada bait lain :

Kerajaan Champa pernah mendapat serangan dari orang Jawa pada tahun 774 Masehi.


Cerita Dari Saudagar Arab


Peninggalan dari prasasti diatas membuat rakyat Kamboja tidak dapat melupakan sejarah masa lampau, dimana kabar tersebut juga diceritakan oleh saudagar Arab ketika berdagang di Kamboja pada tahun 851 Masehi.

Pedagang Arab tersebut bernama Sulaeman dimana singgah di Kamboja untuk perniagaan, beliau bercerita tentang kekalahan kerajaan Khmer akibat serangan oleh Sri Maharaja dari negeri Zabag.

Negeri Zabag yang dimaksudkan oleh Saudagar itu adalah kerajaan Jawa.


Prasasti Kalasan Di Jawa


Prasasti kalasan bukti ada hubungan pertalian sejarah dengan kamboja dan jawa
Prasasti Kalasan 

Dalam cerita saudagar Arab ternyata ada kaitan dengan prasasti yang ditulis di candi Kalasan pada tahun 778 Masehi, lokasi prasasti Kalasan di daerah Kalasan, Sleman, Jogjakarta.

Guru Sang Raja berhasil membujuk Sri Maharaja Tejahpura Panangkarana (Kariyana Panangkara) yang merupakan mustika keluarga syailendra (Sailendra Wamsatilaka) atas permintaan keluarga Syailendra, untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara bagi para pendeta, serta penghadiahan desa Kalasan untuk para sangha (komunitas biarawan dalam Agama Buddha).


Prasasti Tanah Genting Kra


prasasti tanah genting kra bukti dinasti sailendra berkuasa
Prasasti Tanah Genting Kra


Prasasti Ligor atau Tanah Genting Kra Dengan Huruf Kawi

Dalam prasasti tanah genting Kra berangka tahun 775 Masehi, lokasi prasasti tersebut di provinsi Ranong, Thailand menjadi bukti keberadaan kerajaan syailendra

Menyebutkan bahwa manuskrip Ligor berangka tahun 775 Masehi yang ditulis dalam bahasa Kawi menceritakan bahwa:

Nama Visnu yang bergelar Sri Maharaja dari keluarga Sailendravamsa serta dijuluki dengan Sesavvarimadavimathana telah membunuh musuh-musuh yang sombong sampai tidak bersisa.

Dari nama:

1. Sri Maharaja
2. kerajaan syailendra
3. Jawa
4. Pemugaran Candi
5. Cerita kedatangan Kapal
6. Prasasti
7. Ritual keagamaan
8. Gaya arsitek candi
9. Sedikit kemiripan dialek dengan bahasa Jawa dan Khmer, seperti bahasa Jawa:"mangan" dengan Khmer "menggane", ada tambahan ane. Yang artinya makan.


Bisa disebutkan bahwa pengaruh kerajaan Jawa pada masa lampau berpengaruh pada kerajaan di Kamboja.

Keenam bukti tersebut merupakan hipotesis kearah bahwa kerajaan yang ada di Jawa atau kerajaan kerajaan syailendra mempunyai pengaruh kuat di daerah Indochina tepatnya di kerajaan Angkor atau dikenal dengan kerajaan Indrapura di Kamboja.


Pertalian Darah Antara Kamboja, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Thailand


Hubungan Kerajaan Angkor, Sriwijaya, Mataram Kuno

Antara Kerajaan Angkor atau Indrapura, Sriwijaya dan Mataram terdapat pertalian darah yang berasal dari dinasti yang sama yaitu dinasti Syailendra yang berarti dinasti "Raja Gunung".

Dinasti Syailendra membangun candi Borobudur di Jawa sebagai bukti keemasan pada zaman itu dan diakui UNESCO sebagai 7 keajaiban dunia yang patut dilestarikan oleh generasi muda.

Pengaruh Seni Budaya Kerajaan Syailendra

Pengaruh dinasti Syailendra di Asia Tenggara ditemukan juga di arca-arca Bodhisattwa yang ditemukan di Thailand dan di Bidor, Malaysia.

Gaya arsitektur bangunan kerajaan syailendra juga ditemukan di Angkor Wat, Kamboja dimana pengaruh kerajaan syailendra terkenal dengan gaya ukiran Jawa yang kental.

Dimana bentuk pintu dan gerbang candi dari ukiran batu mirip dengan gaya seni kerajaan Syailendra.

Pada masa lampau pertumbuhan kerajaan-kerajaan kuno di daerah Asia Tenggara berpengaruh terhadap bangunan dan seni budaya.


Angkor watt di Kamboja
Angkor Wat di Kamboja


Gaya Ukiran Angkor Wat Mirip Ukiran Jawa

Masuknya kekuasaan Jawa di Kamboja pada sekitar abad ke-8 sampai abad ke-9 Masehi mempunyai dampak besar terhadap kebudayaan dan politik dari kerajaan di Jawa.

Contoh:

Seni bangunan kuil Phnom Kulen dari zaman raja Jayawarman II (Raja Jawa) mirip dengan gaya bangunan kuil Preah Ko yang dibangun oleh raja Indrawarman I pada tahun 877-889 Masehi.


ukiran candi borobudur
Ukiran Candi Borobudur Oleh Dinasti Sailendra 


Seni lainnya yang mempunyai kemiripan adalah gaya arsitektur kuil-kuil dan candi-candi kecil yang ada di Kamboja dan kelompok bangunan Rolous di Angkor yang mirip dengan gaya arsitek kerajaan Sailendra seperti gaya arsitek Jayawarman V pada abad ke-10 masehi mempunyai ciri khas yang sama. (Syafei, 1977, 433).

Gaya ukiran di candi Borobudur dan kemiripan ukiran seni pada candi Angkor Wat dan candi lainnya di wilayah Kamboja merupakan bukti bahwa pengaruh ukiran Jawa pada candi sangat familiar.


Sejarah Singkat Raja Jawa di Kamboja


Jayavarman Raja Jawa

Pada tahun 802 Masehi, pangeran Khmer Jayavarman II atau dikenal dengan Jayawarman yang dilahirkan dan dibesarkan di istana kerajaan Jawa pada masa dinasti Syailendra.

Pangeran tersebut menyatakan menginginkan merdeka dan lepas dari pengaruh kerajaan di Jawa, kemungkinan karena pengaruh sosial politik di negaranya.

Lalu Jayavarman II mendirikan kerajaan baru yang bernama kerajaan Angkor.

Pangeran Jayawarman II dinobatkan sebagai Devaraja atau Tuan Raja oleh seorang pendeta Brahman.


Jayavarman Memindahkan Ibukota Kerajaan

Jayavarman berkali-kali memindahkan ibu kota kerajaan yaitu:

1. Pindah di Indrapura - Sebelah timur Kampong Cham
2. Pindah ke Wat Phou - Sekarang Laos ujung selatan
3. Pindah ke Rolous - Dekat Angkor Wat


Pada tahun 889 Masehi, Yasovarman I menjadi raja Khmer. Dia mulai membangun Angkor atau candi, yang kemudian berganti nama menjadi Yasodharapura.

Raja Yasovarman memerintah sampai tahun 900 Masehi. Pada tahun 1002 Masehi, Suryavarman I merebut tahta kerajaan.

Di bawah pemerintahannya, wilayah kerajaan Angkor bertambah luas sampai ke wilayah-wilayah yang sekarang adalah negara Thailand dan Laos.

Angkor Wat Ditaklukkan Kerajaan Campa

Pada tahun 1080 Masehi, setelah Angkor ditaklukan oleh kerajaan Champa, gubernur provinsi paling utara Khmer menyatakan dirinya sebagai raja, dengan menyandang nama Jayavarman VI.

Dia memerintah kerajaan Khmer baru dari provinsi paling utara Khmer.

Pada tahun 1113 Masehi, tahta kerajaan Khmer diserahkan kepada seorang keponakan Jayavarman VI karena beliau sudah tidak menjabat lagi raja.

Dan keponakan tersebut dinobatkan menjadi raja baru di kerajaan Khmer.

Keponakan raja tersebut lebih memilih untuk menyandang nama Suryavarman II. Pada masa pemerintahannya, Angkor Wat dibangun.

Candi Angkor wat diakui sebagai keajaiban dunia oleh UNESCO pada tahun 1992 sebagai peninggalan budaya masa lampau yang wajib dilestarikan oleh generasi muda.



Sumber:
Wikipedia
Peradaban kuno
Catatan Kohtzu
Brainly

DONASI VIA PAYPAL Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk pengembangan dan hidup yang lebih baik. Terima kasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel