Zaman Tiga Negara Pada Akhir Dinasti Han

Zaman Tiga Negara Pada Akhir Dinasti Han

masa 3 negara dimana dipimpin oleh jenderal perang



Zaman 3 Kerajaan (3 Kingdom)



Asal Usul Zaman 3 Kingdom

Sebelum berdirinya dinasti Jin berdiri, terjadi pergolakan sosial dan politik yang memanas dan memuncak pada masa akhir dinasti Han dan Xin timur.

Selama puluhan tahun dimana faktor penting keruntuhan dinasti Han adalah tidak ada kaisar yang cakap dan mampu memerintah kerajaan serta membuat rakyat sengsara pada tahun 189 M.


Faktor keruntuhan dinasti Han

Faktor keruntuhan dinasti Han dan berdirinya negara Jin


  • Tidak ada raja yang cakap dalam memerintah kerajaan
  • Kaisar terakhir dinasti Han hanya mencari kesenangan dunia dan melupakan rakyatnya
  • Serangan dari bangsa bar-bar
  • Pada akhir pemerintahan dinasti Han angka korupsi meningkat tajam dimana dilakukan oleh para kasim dan bangsawan kerajaan sendiri
  • Banyak terjadi pemberontakan kecil akibat kebijakan kasim yang tidak sesuai dengan titah kaisar
  • Kekuasaan pemerintahan pada waktu itu dipimpin oleh kasim dalam konsolidasi kekuasaan di tangan mereka dimana raja sudah tidak tegas lagi memimpin kerajaan
  • Banyak pemalsuan titah kaisar yang dilakukan oleh para kasim karena kaisar sibuk dengan urusan pribadi
  • Iri dengki dan perselisihan oleh para kasim karena titah kaisar menguntungkan golongan bangsawan tertentu dan merugikan kasim dan bangsawan lain
  • Sepeninggal Hakim Bao tidak ada lagi hakim yang jujur dan adil dimana para hakim senang jika mereka disuap dan disogok oleh para bangsawan yang salah agar kasus sidang menang
  • Elektabilitas, transparansi, akuntabilitas, penegakan hukum di zaman akhir dinasti Han mengalami kemerosotan drastis (penurunan tajam) dimana banyak para kasim dan bangsawan saling berselisih karena hukum telah dibuat mainan oleh golongan bangsawan dan kasim tertentu yang kebal hukum

Akibatnya banyak terjadi pemberontakan dan kekuasaan pemerintahan pada waktu itu dipimpin oleh kasim dalam konsolidasi kekuasaan ditangan mereka.

Saling Curiga dan Tidak Puas Penyebab Keruntuhan Dinasti Han

Tidak puas, tidak percaya, penegakan hukum yang lemah, hilangnya kontrol kaisar sebagai pusat kuasa kerajaan Han dan perselisihan antar kasim dan bangsawan membuat mereka saling bermusuhan dan memperebutkan kekuasaan dan legitimasi dinasti Han.

Pemberontakan sorban kuning yang dipimpin Zhang Jiao merupakan ketidakpuasan kepada pemerintah akhir dinasti Han dimana pemberontakan itu belum bisa ditumpas sampai 8 tahun.

Puncak perebutan kekuasaan terjadi setelah kematian kaisar Hedi dimana kaisar yang selanjutnya menduduki jabatan atau berkuasa masih anak kecil dimana dia diangkat dengan terpaksa oleh dukungan kasim tanpa sepengetahuan semua elemen pejabat dan keluarga pemerintahan Han.

Beberapa kasim dan bangsawan yang lain tidak menyetujui pengangkatan kaisar yang masih anak kecil dan banyak titah palsu yang seolah-olah dibuat oleh kaisar yang ternyata diketahui oleh kasim dan pejabat kerajaan lain ternyata itu dibuat oleh kasim tertentu untuk keuntungan pribadi dengan tujuan politik menyetir kaisar yang masih bocah.

Pemberontakan Dalam Istana Han

Jenderal Yuan Shao kemudian mengambil inisiatif menyerang istana dan memerintahkan pembunuhan sebagian menteri dan kasim yang dituduh berkomplot merebut kekuasaan kekaisaran.

Namun, menteri dan kasim lainnya menyandera Kaisar Shaodi dan adiknya Liu Xie ke luar istana. Dong Zhuo mengambil kesempatan ini untuk memusnahkan komplotan menteri tadi dan menyelamatkan kaisar.

Kehilangan Kontrol Kaisar

Dengan kaisar di bawah pengaturannya (disetir), Dong Zhuo kemudian memulai mengontrol pemerintahan.

Setelah kematian kaisar Ling pada tahun 189 M, maka jenderal He Jin, memanggil Dong Zhuo memimpin pasukannya di Luoyang untuk membantunya membunuh kasim yang membelot dengan pemerintah.

Tapi sebelum Dong Zhuo tiba di ibukota Jenderal He Jin dibunuh oleh kasim yang membelot pemerintahan dan ibukota jatuh ke dalam kekacauan.

Para kasim lalu menculik kaisar muda untuk di amankan keluar ibukota Han dan mereka dicegat oleh Dong Zhuo, yang membawa kembali sang kaisar kembali ke istana.

Pada tahun 190 M, Dong Zhuo memberhentikan kaisar muda dan digantikan oleh kaisar Xian yang merupakan boneka Dong Zhuo.

Dia juga membuat dirinya perdana menteri dan mulai saat itu, ia mulai menunjukan ketiraniannya.

Para pemimpin perang, bangsawan dan kasim yang tidak mau disetir oleh Dong Zhuo melakukan aliansi koalisi dengan nama aliansi Pintu Timur dimana Yuan Shu, Cao Cao, Liu Bei, Sun Jian menyerang Luo Yang.

Dong Zhuo akhirnya harus melakukan pemindahan ibukota dari kota Loyang ke Chang An.

Dalam sejarahnya Dong Zhuo dibunuh oleh Lu Bu anak adopsinya karena dia tidak tahan melihat ayahnya sering menyiksa dia dan karena Lu Bu mencintai selir Dong Zhou (selir ayahnya sendiri) dan dipengaruhi oleh hasutan Yuan Shao akhirnya dia membunuh ayahnya dibantu oleh Wang Yun pada tahun 192 M.

Ini mengakibatkan bawahan Dong Zhuo, Li Jue menyerang istana dan membunuh Wang Yun serta mengusir Lu Bu.


Masa Jenderal Perang

Tidak adanya kaisar yang cakap dan kematian perdana menteri Dong Zhuo, maka kerajaan Han akhir pecah menjadi pecahan yang dipimpin oleh gubernur, kasim, jenderal perang.

Melemahnya kekuasaan istana menyebabkan para gubernur dan penguasa daerah memperkuat diri sendiri dan menjadi raja kecil di wilayah mereka. Ini menyebabkan munculnya rivalitas antar raja-raja perang satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Masa tersebut dikenal dengan perubahan pada jenderal perang dimana semua perwira kerajaan dan kasim berhak mendapatkan kekuasaan secara mutlak.

Kemunculan Raja Perang

Situasi politik, sosial, ekonomi yang kacau dan rasa saling curiga, waspada dan tidak percaya dengan pemerintahan pada waktu itu, maka banyak perwira yang membelot dan mengumpulkan dukungan dari bawahan untuk menjadi jenderal perang.

Hal tersebut dimanfaatkan sekelompok kasim, bangsawan dan perwira kerajaan untuk memancing kekacauan dimana sistem politik dan tatanan pemerintahan berubah seratus delapan puluh derajat dimana kaisar sudah kehilangan wibawa.

Dukungan terbesar dan mampu memberikan jaminan pemerintahan yang adil akan dipilih menjadi raja perang.

Raja Perang Terkenal Pada Zaman Dinasti Han

Raja perang yang terkenal dan kuat pada masa ini adalah :

  1. Yuan Shao, menguasai Prefektur Ji di utara Sungai Kuning
  2. Cao Cao, menguasai Chenliu dan kemudian Xuchang
  3. Yuan Shu, menguasai daerah Huainan dan mengangkat diri sebagai kaisar karena mempunyai stempel kekaisaran di tangannya
  4. Sun Jian, menguasai Changsha
  5. Dong Zhuo, gubernur Prefektur Liang, namun kemudian merebut ibu kota Luoyang dan memindahkannya ke Chang'an, Prefektur Sili
  6. Liu Biao, menguasai Prefektur Jing
  7. Liu Zhang, menguasai Prefektur Yi
  8. Zhang Lu, menguasai Hanzhong
  9. Ma Teng, menguasai Prefektur Liang
  10. Gongsun Zan, menguasai Semenanjung Liaodong


Dari 10 jenderal perang yang berpengaruh ini, maka kontrol pemerintah Han sudah tidak ada (dinasti Han sudah bubar) dan para jenderal saling bermusuhan demi mendapatkan legitimasi kekuasaan.

Sejarah cerita jenderal masa perang ini banyak diputar di televisi, ditulis dalam romance klasik jaman 3 kerajaan dan permainan game dari cerita bubarnya dinasti Han akhir.



Zaman 3 Kingdom

Dengan kejadian itu, maka timbul perpecahan dan kudeta pada kerajaan Han dan dinasti Han pecah menjadi 3 kerajaan yang saling bermusuhan.

Dikenal dengan nama zaman 3 kerajaan dikenal dengan nama zaman Three Kingdom.

Pecahan Kerajaan Han

Pecahan kerajaan Han tersebut adalah:

a. Kerajaan Wei (Cao Wei) dipimpin oleh Cao Cao
b. Kerajaan Wu (Dong Wu) dipimpin oleh Liu Bei
c. Kerajaan Shu (Shu Han) dipimpin oleh Chao Hong atau Shin Hao

DONASI VIA PAYPAL Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk pengembangan dan hidup yang lebih baik. Terima kasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel